Rabu, 19 Juni 2013

Pancen, Jawa Timur Wani Bumbu! (Very Late Posting)

85, 19 Mei 2013

85, ya, sekarang saya sedang duduk manis di salah satu tempat duduk (dinas) kereta Malabar, Malang-Bandung...
Masih pukul 15.17 wib, tapi saya sudah berulang kali tertidur hingga tak bisa memejamkan mata lagi ketika kereta ini masuk daerah Tulungagung. Perjalanan masih panjang untuk sampai di Bandung, dan saya memutuskan untuk menulis saja seperti biasanya sambil menunggu kereta ini menjemput suami tercinta di Stasiun Kediri...

Begitulah, perjalanan kali ini ditemani Mas Agung. Tadinya sih kita sudah bersiap untuk bersama berangkat dari Stasiun Malang, tetapi semalam ada berita duka dari budhe nya Mas Agung (kakak dari Bapak) yang meninggal di usia 60 tahun karena sakit yang diderita. Kabar duka ini membuat kami memutuskan untuk berangkat dari Stasiun yang berbeda, karena Mas Agung langsung berangkat ke Kediri tadi pagi selepas subuh. Sengaja tidak mengajakku karena kondisi bumil yang takutnya bikin makin lelah untuk sampai Bandung.

Em, dikereta aku mengingat kejadian hampir 3 minggu yang lalu, dimana aku dan Mas Agung puang dari Bandung ke Malang. Ada yang beda, karena kami tidak kebagian tempat duduk di Malabar hari itu, sehingga kami memutuskan naik Mutiara Selatan (Mutsel), yah, ke Surabaya. Awalnya kupikir tidak masalah karena memang kami pulang ke Lawang, jadi yah aku pikir sama saja, perkiraan kami akan tiba di rumah pukul 9 pagi karena Mutsel akan membawa kami ke Wonokromo pukul 6 pagi dan kami akan lanjutkan naik bus dari Stasiun itu.

Pukul 5 pagi, Mutsel telah tiba di Mojokerto, yang artinya sebentar lagi akan tiba di Wonokromo. Stasiun Wonokromo letaknya sangat strategis untuk kami bisa menjangkau bus yang akan kami gunakan melanjutkan perjalanan, hanya perlu jalan kaki sedikit saja, karena memang letaknya tak jauh dari jalanan kota Surabaya. Kami tak sendirian rupanya utuk turun di Stasiun Wonokromo. Ada seorang bapak paruh baya juga bersiap akan turun. Kemudian ia bertanya pada Prama (pramugara kereta) yang kebetulan melintas di kereta kami, memastikan kalau Mutsel akan berhenti di Wonokromo. Tapi ternyata, Gapeka baru tidak berkata demikian. Ya Allah, aku lupa, kalau di Grafik Perjalanan KA yang baru, tidak ada kereta dari Bandung yang berhenti di Stasiun Wonokromo! Yah, apa mau dikata, turunlah kita di Stasiun selanjutnya, Stasiun akhir tujuan KA itu, Stasiun Gubeng.

Alhamdulillah, menginjak tanah Surabaya. Walaupun perjalanan masih cukup panjang, tapi ya sudahlah, kami menikmatinya. Dimulai dari pintu keluar Stasiun Gubeng lama, kami menyusuri Jl. Pemuda, ya benar, yang pertama kita lihat adalah Monkasel (Monumen Kapal Selam). Karena memang masih pagi, Surabaya belum menampakkan geliat nya. Suasana santai sangat terasa. Ditambah dengan sekelompok "Gowesser" yang bersepeda santai menikmati jalanan kota Surabaya yang lengang. Tak jauh dari Monkasel, kami melihat kerumunan di pinggiran Jl. Pemuda. Apa ya kira-kira?

Pagi-pagi, dikerumuni orang-orang yang tampak beristirahat sejenak karena telah berolah raga. Yaaapp, betuuulll,,, ada ibu-ibu penjual sarapan. Nasi apa yaaa? Karena kami penasaran, kami coba untuk ikut nimbrung disitu, dan terpilihlah nasi sate sebagai sarapan pagi kami. Jangan bayangkan nasi sate yang mewah yaa... ini hanya nasi bungkus yang dilengkapi dengan 5 tusuk sate ayam lengkap dengan bumbu kacang, rawit dan acar bawangnya. Dan harganya itu loh, hanya 5 ribu rupiah sajaaaaa... wauuuuww ada ga ya yang kaya gini di Bandung... beruntung juga aku dan suami bukan tipe orang yang harus malu makan ditepi jalan. Percaya ayau tidak, masakan ini mantab jayaaaaaa....

Meminjam quote seorang teman bernama Ribka, yang selalu bilang, "pancen, Jawa Timur wani bumbu!"

Istimewaaa

Yang lebih seru lagi, setelah menyantap sarapan yang istimewa itu, kami berjalan menunggu bis kota untuk mengantar kita sampai ke Terminal Purabaya. Iya, kami harus ke terminal Purabaya untuk kemudian menyambung lagi dengan bus AKDP, favorit kita sih bus Restu Panda AC tarif biasa (bukan patas) hohoho....
Di dalam bus kota kami bertemu dengan ibu-ibu paruh baya yang juga akan melanjutkan perjalanan ke Solo melalui terminal yang sama, bercerita panjang lebar seolah kami pernah bertemu sebelumnya. Karena kondisi yang setengah mengantuk,kami hanya mengiyakan saja hingga kami sampai terminal.

Sesampai di terminal, kami berpamitan kepada ibu tersebut, kemudian langsung menuju pool bus yang kami maksud. Beruntung, kami langsung mendapati bus idaman kami itu #haseek, dan langsung mengambil tempat duduk berharap bisa beristirahat sejenak hingga sampai Lawang.

Memang, perjalanan dengan bus memakan waktu kurang lebih 2 jam, kami berdua pun terlelap ditengah hiruk pikuk pedagang asongan dalam bus. Hingga akhirnya, sesampai Lawang, kami masih tertidur!
Waduuhhh, kebablasaaaannn, untung saja tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja kami harus berjalan kaki (lagi) kurang lebih 5 menit untuk samapi rumah :D

Benar-benar unpredictable trip.
Alhamdulillah,,,
Yang makin bikin bersyukur, si kakak tetep aktif dan sehat dengan segambreng tingkah polah ummi nya....
Setelah acara sarapan pagi yang spesial, kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang, enak abiii....
Heehehee.
Begitulah ceritanya,,,
 
Mm,,, nanti aku share lagi deh yang seru-seru dari perjalanan hidup kami. Yang jelas, tiap hari pasti seru :D Alhamdulillah...
Eh, sampai Kediri juga,,
Sampai jumpa semuanya,,,,
Assalamualaikuuumm :)

Ini dia penampakannya...
 
 
*postingan ini sudah dipersiapkan tanggal 19 Mei 2013, telaaaaat banget posting akibat terkendala teknis hohoho...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar